Analisis Maksim Percakapan pada Anak Usia 12 Tahun terhadap Tuturan dalam Lingkungan Keluarga
Abstract
Berbicara mengenai studi pragmatik, khususnya maksim percakapan, bukan hanya sekadar mengenai tuturan, tetapi juga struktur dan tata aturan dalam berkomunikasi. Terbentuknya bangunan percakapan dan struktur analisis tuturan tentunya tidak terlepas dari keterkaitan atau hubungan antara bahasa dengan kenyataan interaksi sehari-hari. Kenyataan atau realitas interaksi dalam keluarga dipahami sebagai seperangkat konstruksi sosial yang dibentuk melalui tindak tutur dan prinsip kerja sama. ?Analisis maksim percakapan pada anak usia 12 tahun yang dimaksud dalam penulisan ini, akan memberikan pemahaman mendasar bahwa tuturan anak tidak dipahami semata-mata sebagai objek studi bahasa saja, akan tetapi memaknai tuturan sebagai praktik sosial yang bertujuan. Tuturan anak tidak serta merta hadir begitu saja, melainkan hadir dengan tujuan dan maksud tertentu yang ingin disampaikan kepada mitra tuturnya, yakni orang tua maupun saudara kandungnya. ?Dalam melakukan analisis maksim percakapan, tidak cukup hanya menganalisis unsur kebahasaannya, akan tetapi juga harus memperhitungkan konteks yang membangun tuturan tersebut. Melalui kajian pragmatik ini, peneliti tidak hanya menganalisis bahasa dalam arti studi linguistik atau aspek kebahasaan semata, melainkan bahasa tersebut dianalisis dengan menghubungkannya pada konteks. Konteks di sini bermaksud bahwa bahasa beserta pematuhan maupun pelanggaran maksimnya (kuantitas, kualitas, relevansi, dan pelaksanaan) tersebut dipakai oleh anak untuk tujuan dan praktik komunikasi tertentu di dalam lingkungan keluarga.
Keywords
Full Text:
XMLReferences
Astuti, W. D. (2017). Implikatur percakapan dalam gelar wicara “Sentilan Sentilun” di Metro TV. Kandai, 13(2).
Bala, A. (2022). Kajian tentang hakikat, tindak tutur, konteks, dan muka dalam pragmatik. Retorika: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(1).
Harpriyanti, H., & Oktani, H. S. (2016). Realisasi maksim percakapan dalam acara Hitam Putih di Trans7. STILISTIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 1(1).
Kurniawan, I. (2011). Analisis wacana humor Gara-Gara dalam pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Medot Samiyono Sudarsono (Sebuah kajian pragmatik) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Rahardi, R. K. (2005). Pragmatik: Kesantunan imperatif bahasa Indonesia. Erlangga.
Rohman, M. A. F., Abadi, M. I., & Letreng, I. W. (2025). Pelanggaran prinsip kerjasama maksim kuantitas dalam acara Rakyat Bersuara. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 5(3).
Rusminto, N. E. (2015). Analisis wacana: Kajian teoritis dan praktis. Graha Ilmu.
Sadiyah, N. K., Furqon, H., & Irmayani, I. (2025). Implikatur percakapan antara penjual sayuran dan pembeli di Desa Kradenanrejo: Analisis wacana pragmatik fungsional. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 5(3).
Saputri, R. (2017). Analisis percakapan di media Facebook: Pelanggaran maksim kerja sama (PK) model Grice dalam percakapan Facebook. Jurnalistrendi: Jurnal Linguistik, Sastra, dan Pendidikan, 2(2).
Syah, N. I., Nur, D. D., & Prayogi, R. (2025). Pelanggaran maksim kuantitas dalam percakapan bahasa Lampung anak-anak usia sekolah dasar. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah, 10(4).
Wahyuningsih, H., & Rafli, Z. (2017). Implikatur percakapan dalam Stand Up Comedy 4. Bahtera: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 16(2).
DOI: https://doi.org/10.36269/jeil.v7i1.5367
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2026 Shakira Az Zahra

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
JEIL INDEX






